Koq bisa-bisanya saya bertemu dengan Bapak Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono)

“Nasib-e wong cilik kadang memang susah. Tapi kalau sudah nasib, yo nasib tenan”

1 Juni 2008

Bertemu seorang presiden Republik Indonesia, apalagi ikut sama-sama ngobrol selama 2 jam lebih, tentulah bukan hal yang mudah dilakukan oleh orang kayak saya ini. Apalagi malamnya saya tidur terpaksa sambil goyang pinggul di kereta Bima, ditambah adanya kerusakan sinyal di stasiun Cakung yang mengharuskan kereta tertahan di daerah persawahan antara Karawang - Bekasi selama sekitar 4 jam, akibatnya baru bisa nyampai BPPT sekitar setengah 11 dengan badan sudah seperti kulup (sayur rebus yang sudah diperas). Katanya sih Bima itu kereta ekspress, tp jebule yo masih tetep seperti yang dulu, mung megal-megol bak ular kepanasan. Jarak Jombang - Jakarta yang 750km, semestinya dengan kecepatan rata2 75km/jam pun khan hanya 10jam. Tapi ternyata lebih dari 12 jam lho. hmm… beginilah hidup di negeri rempeyek, kudu maklum dan prihatin. (ssstttttt………)

2 Juni 2008

Seharian di kantor cuma ngobrol ngalor ngidul ketemu konco2 lawas, dan ngurus administrasi kembali aktif di bppt. Tahu-tahu sudah jam habis kantor. Saya pun belum sempat mikir mencari kos, instantly, ngikut gaya-e Pak Anto dalam program ndoktor (tiarap tiap malam di pojok ruangan lantai 4 gedung 2 bppt). Lumayan, ikut nyumbang ngirit BBM gk perlu PP ke rumah (lha omah ngendi maneh).

Sore ditelpon atasan suruh menemui Pak Deputi (sakjane pak deputi ini 20th yg lalu dulu adalah lawan (sekaligus kawan kalau lagi sama2 ngrecoki teman lain) saya main game msx saat masih di sunshine hill, higashi ikebukuro, tokyo). Sebelum magrib saya ke ruangan beliau, dan langsung saya tanya ada apa koq manggil2 saya… (hehehe). Dijawabnya, “besok kamu siap2 ya, saya ajak menghadap presiden”.
Lho… lho… lho… lha mbok jangan saya, wong saya pagi tadi baru dateng dari kampung, masih setengah bingung, mosok mau diserahkan ke presiden. Dasi saja saya gak bawa, apalagi jas, sudah saya buang semua saat pindah ke tanah air, dengan alasan di negeri rempeyek gak perlu jas-jasan.

2-3 Juni 2008
Tapi memang bener ungkapan bahwa rejeki kita itu tidak jauh dari kawan. Malam itu ndilalah Pak Anto masih di dalam sepur, saya sms dan pinjam kasur tidurnya nan uempuk, sehingga geger yang semalam tidak bisa lurus dan kaku2, lumayan enteng. Terus besoknya, lagi2, dengan kebaikannya, saya dipinjemin jas dan dasinya, termasuk emblem von nagoya-nya, jan kuereeen habis pokok-e. Pendek kata, saya jadi tambah puede dengan jas dan dasi pinjeman. Suwun yo Pak Anto.

3 Juni 2008

Ada SMS disuruh siap2 jam 8 pagi. Wah, saya sudah sejak subuh sudah rapi, dan siap di ruangan pak deputi 10 menit sebelum jam 8.
“Pak, apa tidak sebaiknya saya dibriefing dulu?”
“Oh iya, sambil nunggu yang lain dateng, silakan dipikirkan”
hmm… mikir opo maneh (batinku). semalem sudah jenuh nyari2 bahan di internet.
Selain saya ada 2 orang lain yang akan “dibawa”. Setelah kumpul, langsung dengan ber-angin2 dan ber-hujan2 mbahas sekiranya yang bisa dibahas.
Tuit… tiuit… tiuit, SMS ke pak deputi isinya, pak presiden masih belum tahu kapan siapnya.
wekekekek…. masa’ saya ginian koq malah yang membuat pak presiden bersiap-siap.
Sambil diskusi ngalor ngidul, selang beberapa lama ada SMS, “kita diterima presiden nanti pk 14. harap siap di tempat, berangkat pk 13:00″
horeeeeeeee……………. (hilang sudah kecemasan, wong sudah metete dari pagi jeh, mosok gak jadi pergi)
Dengan kendaraan pak deputi dan pak ka bppt, berangkat ber-6 (dengan bapak ka batan), langsung mengarah ke Istana melalui pintu sekneg.
Woah… tiba’e gak punya ijin masuk. Saya gak paham ngurus apa, bolak-balik, bolak-balik, tahu-tahu sudah boleh masuk. Tentunya lewat pintu berdetektor yang bisa bunyi itu lho. Lolos semua, tanpa hambatan.
Setelah menunggu di ruang lobby beberapa belas menit, dipanggillah rombongan kita untuk menghadap presiden.
Wuaah….. ternyata pak presiden SBY itu orangnya tinggi tegap, gagah, ngganteng, dan bersih sekali mukanya. Apalagi bila dibandingkan dengan muka saya yg belepotan lantaran dalam 2 bulan semenjak kepulangan dari negeri ngamarto april lalu, saya setiap hari kepanasan jadi tukang ojek motor antar jemput anak2 ke sekolah dan les. Sungguh berbeda pokoknya… (lha iyo jelas seh)
Di dalam ruangan sudah menunggu beberapa orang yang lain, yang akhirnya saya tahu bahwa beliau adalah mantan ka bppt yang sekarang menjadi mensesneg, juga bapak2 yang ngganteng2 yang sudah biasa muncul di koran atau televisi itu lho.

Lanjutannya? sikrit.
Pokoknya ngomong macem2, dari jam 14:20 sampai 16:30-an.
Pak Presiden itu ternyata welcome sekali orangnya, dan banyak guyonannya. Jan nikmat, termasuk suguhan kue nogosari^nya. Intinya beliau mengajak kepada kita sekalian untuk turut membangun negara ini dengan segenap kemampuan yang kita miliki. wis…

Di akhir sekali, saya sempatkan sekkenbanashi “Pak, kulo niki asli njombang, nanging sampun dangu wonten jepang, terakhir di pusat riset semikonduktor di tsukuba jepang”
Dijawab beliau “Wah ini, cocok, mengko njaluk tulung yo”
Saya jawab lagi “Inggih, insyaallah Pak”

(paku… paku… paku…)

- fin -

4 Juni 2008
ngleset di BPPT Gd 2 Lt.4

Comments (4)

Hinan-kunren (Latihan Penyelamatan Diri)

Selepas istirahat siang, seperti biasa, saya langsung menuju lab untuk melanjutkan praktikum. Setengah jam kemudian telepon bergetar, dan sensei saya langsung bilang kalau sekarang akan ada “kasai hinan kunren”. Wah ? Koq gak masuk di mailbox saya ya. Memang pagi tadi selepas meeting, senior sempat bercakap tentang hinan-kunren lantaran ada seorang kolaborat yang tidak masuk kerja, yang dianggapnya bahwa kolaborator saya tersebut ingin menghindar dari acara tsb. Padahal sih, sesuai perkataan sekretaris, katanya dianya lagi tidak enak badan, sehingga hari ini terpaksa tidak masuk lab lagi.

Pukul 13:30, acara hinan-kunren dimulai. Saya sudah menyiapkan helm pengaman. Speaker ruangan telah mengumumkan adanya kebakaran di lantai 1 gedung utama central 2, AIST. Tentunya ditambah kata-kata, “kunren desu”. Beberapa karyawan di tingkat 5 (ruangan saya) telah mulai menuju tangga gedung, dengan tidak lupa sambil membawa helm penyelamat yang umumnya telah selalu disiapkan di lemari/rak kerja. Saya pun langsung menuju tangga, dan melihat beberapa orang telah lebih dulu turun melalui tangga menuju lobby, untuk selanjutnya keluar gedung menuju lapangan tengah sebagai tempat untuk menyelamatkan diri (hinan-basho) atau tempat berkumpul (syugou-basho).

Lantaran ini adalah latihan, di lapangan telah dipasang umbul-umbul yang bertuliskan seluruh nama unit kerja di AIST Central 2. Orang-orang langsung berbaris di belakang umbul-umbul yang sesuai dengan unit kerjanya masing-masing. Demikian pula saya, langsung menuju ke umbul-umbul yang bertulisan 次世代半導体研究センター. Rupanya belum ada orang lain di sana. Namun sesaat kemudian beberapa rekan kerja dan orang-orang yang setidaknya pernah bertatap muka lantaran masih satu unit kerja, mulai berdatangan. Orang-orang dari unit lain pun sudah mulai memadati lapangan, dengan semua kepala bertutupkan helm pengaman warna putih, dengan label AIST berwarna merah. Di bagian belakang, ditulis nama pemakai dan golongan darah. Tentunya ini untuk mempermudah bila ada korban yang perlu pertolongan transfusi darah, pada kejadian yang sesungguhnya.

Di sampaing gedung telah berhenti mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran (消防省). Demikian pula, petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran telah siap memberikan pencerahan mengenai tata-cara tindakan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran, serta cara mengatasi kebakaran tersebut. Acara yang hanya sekitar 30 menit tersebut diakhiri dengan demonstrasi penggunaan tabung pemadam untuk memadamkan api. Untuk kepraktisan, tabung pemadam diisi air, lalu disemprotkan ke alat pengaman jalan yang berbentuk kerucut warna merah yang dimaksudkan sebagai api.

Saya sebenarnya telah beberapa mengikuti latihan semacam itu. Tidak hanya penyelamatan kebakaran, tetapi juga penyelamatan pada saat terjadi gempa bumi. Yang lebih terasa lagi adalah ketika mengikuti pelatihan penyelamatan kebakaran dengan menggunakan tabung pemadam yang berisi serbuk pemadam dan melewati ruangan berasap, yang ternyata benar-benar tidak kelihatan meskipun berjarak beberapa puluh cm. Dalam latihan penyelamatan ketika terjadi gempa bumi, sempat merasakan simulasi gempa yang benar-benar terjadi di berbagai daerah di Jepang, dengan cara naik kendaraan khusus untuk merasakan gempa yang sampai berskala 6 atau bahkan 7 (skala standar Jepang).

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa latihan semacam itu selalu diadakan tiap tahun dan diikuti (hampir) seluruh karyawan. Dan sebagaimana umumnya di Jepang, mereka semua bisa mengikutinya dengan senang hati, walau di luar suhu cukup dingin karena angin musim dingin bertiup cukup kencang kemarin.

Saya kurang tahu apakah di kantor saya (BPPT Jakarta) ada pelatihan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran. Tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya bila terjadi kebakaran hebat di gedung yang berlantai 24++. Semoga dengan diadakan latihan semacam itu akan membuat orang semakin waspada.

Comments (1)

Gara-gara Taifu Nomor 9

Sapporo, 6 September 2007

Kebetulan ikut konferensi Obutsu di Hokkaido Kogyo Daigaku, sejak tanggal 4 September 2007, dan berencana kembali ke Tsukuba tanggal 6-nya.

Hari itu cuaca Sapporo mendung sejak pagi, dan siangnya sudah mulai turun hujan, walau hanya gerimis. Karena ada badai taufan (Taifu 9-go) yang melanda Jepang yang diberitakan akan masuk wilayah Kanto pada malam harinya, dengan perasaan cemas jangan-jangan tidak bisa kembali ke Tsukuba hari itu, saya selalu mengikuti berita di TV Hotel Green Kotoni, Sapporo.

Ketika istirahat siang, saya coba menghubungi perwakilan JTB setempat, yang dijawab bahwa sampai saat itu belum ada informasi apa-apa dari ANA. Tiket saya hari itu adalah dengan penerbangan ANA 74, yang rencana berangkat 18:30.

Karena mendung sudah semakin gelap dan gerimis mulai besar, saya putuskan langsung ke Chitose Airport, dengan harapan bisa naik penerbangan sebelumnya. Setelah membeli oleh2 di Sapporo-eki, saya langsung naik kereta menuju bandara. Rupanya udara di Chitose Airport masih cukup terang, dan tidak ada gerimis.

Sesampai di Airport, saya langsung menghubungi JTB, tetapi sayang tiket saya tidak bisa diubah. Akhirnya saya tetap dikasih Boarding Pass untuk penerbangan 18:30. Di ruang tunggu bandara ada monitor pergerakan Taifu 9-go, yang memang tengah menunggu Tokyo-area. Kawan di Tsukuba telah menghubungi melalui email HP, bahwa hujan deras tengah melanda Chiba-ken, yang membuat perasaan semakin cemas.

Pihak ANA masih belum memberi keputusan bisa tidaknya berangkat penerbangan ANA 72 (17:30) dan ANA 74 (18:30), tetapi penerbangan berikutnya sudah pasti tidak dilakukan karena memang kondisi Haneda Airport yang tidak memungkinkan untuk landing. Bagi mereka yang telah mengetahui kondisi bahwa penerbangannya di-cancel, segera bisa mencari hotel untuk menginap. Sial bagi kami, yang mesti menunggu keputusan sampai detik-detik akhir menjelang keberangkatan. Singkat kata, sekitar pukul 6 sore, kami diberitahu kalau penerbangan saya terpaksa dibatalkan.

Setelah meminta konfirmasi tiket esok hari, saya langsung menghubungi beberapa hotel di sekitar bandara, yang mana semuanya telah penuh. Tentunya ribuan orang terpaksa menginap kembali di Chitose, Sapporo dan sekitarnya. Hari semakin malam, saya masih di dalam bandara, sambil mencoba menghubungi beberapa hotel, termasuk hotel di Sapporo, yang kesemuanya sama, penuh. Akhirnya saya kontak teman di Tsukuba yang mempunyai teman di Sapporo, untuk sekiranya bisa membantu saya.

Singkat cerita, saya ketemu Bapak Ananda Putra, dan diantar ke Mesjid Sapporo, setelah sebelumnya berputar-putar di sekitar Sapporo-eki untuk mencari hotel, yang hasilnya juga nihil. Setelah shalat Isya’ berjamaah dengan saudara-saudara di Sapporo, dengan seorang kawan dari Malaysia saya pergi menemui seorang kawan yang tinggal di Hotel Arimax330. Ternyata penuh juga. Ya, akhirnya saya diantar kembali ke mesjid, dan menginap semalam di sana.

Comments (1)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1)