Selepas istirahat siang, seperti biasa, saya langsung menuju lab untuk melanjutkan praktikum. Setengah jam kemudian telepon bergetar, dan sensei saya langsung bilang kalau sekarang akan ada “kasai hinan kunren”. Wah ? Koq gak masuk di mailbox saya ya. Memang pagi tadi selepas meeting, senior sempat bercakap tentang hinan-kunren lantaran ada seorang kolaborat yang tidak masuk kerja, yang dianggapnya bahwa kolaborator saya tersebut ingin menghindar dari acara tsb. Padahal sih, sesuai perkataan sekretaris, katanya dianya lagi tidak enak badan, sehingga hari ini terpaksa tidak masuk lab lagi.
Pukul 13:30, acara hinan-kunren dimulai. Saya sudah menyiapkan helm pengaman. Speaker ruangan telah mengumumkan adanya kebakaran di lantai 1 gedung utama central 2, AIST. Tentunya ditambah kata-kata, “kunren desu”. Beberapa karyawan di tingkat 5 (ruangan saya) telah mulai menuju tangga gedung, dengan tidak lupa sambil membawa helm penyelamat yang umumnya telah selalu disiapkan di lemari/rak kerja. Saya pun langsung menuju tangga, dan melihat beberapa orang telah lebih dulu turun melalui tangga menuju lobby, untuk selanjutnya keluar gedung menuju lapangan tengah sebagai tempat untuk menyelamatkan diri (hinan-basho) atau tempat berkumpul (syugou-basho).
Lantaran ini adalah latihan, di lapangan telah dipasang umbul-umbul yang bertuliskan seluruh nama unit kerja di AIST Central 2. Orang-orang langsung berbaris di belakang umbul-umbul yang sesuai dengan unit kerjanya masing-masing. Demikian pula saya, langsung menuju ke umbul-umbul yang bertulisan 次世代半導体研究センター. Rupanya belum ada orang lain di sana. Namun sesaat kemudian beberapa rekan kerja dan orang-orang yang setidaknya pernah bertatap muka lantaran masih satu unit kerja, mulai berdatangan. Orang-orang dari unit lain pun sudah mulai memadati lapangan, dengan semua kepala bertutupkan helm pengaman warna putih, dengan label AIST berwarna merah. Di bagian belakang, ditulis nama pemakai dan golongan darah. Tentunya ini untuk mempermudah bila ada korban yang perlu pertolongan transfusi darah, pada kejadian yang sesungguhnya.
Di sampaing gedung telah berhenti mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran (消防省). Demikian pula, petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran telah siap memberikan pencerahan mengenai tata-cara tindakan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran, serta cara mengatasi kebakaran tersebut. Acara yang hanya sekitar 30 menit tersebut diakhiri dengan demonstrasi penggunaan tabung pemadam untuk memadamkan api. Untuk kepraktisan, tabung pemadam diisi air, lalu disemprotkan ke alat pengaman jalan yang berbentuk kerucut warna merah yang dimaksudkan sebagai api.
Saya sebenarnya telah beberapa mengikuti latihan semacam itu. Tidak hanya penyelamatan kebakaran, tetapi juga penyelamatan pada saat terjadi gempa bumi. Yang lebih terasa lagi adalah ketika mengikuti pelatihan penyelamatan kebakaran dengan menggunakan tabung pemadam yang berisi serbuk pemadam dan melewati ruangan berasap, yang ternyata benar-benar tidak kelihatan meskipun berjarak beberapa puluh cm. Dalam latihan penyelamatan ketika terjadi gempa bumi, sempat merasakan simulasi gempa yang benar-benar terjadi di berbagai daerah di Jepang, dengan cara naik kendaraan khusus untuk merasakan gempa yang sampai berskala 6 atau bahkan 7 (skala standar Jepang).
Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa latihan semacam itu selalu diadakan tiap tahun dan diikuti (hampir) seluruh karyawan. Dan sebagaimana umumnya di Jepang, mereka semua bisa mengikutinya dengan senang hati, walau di luar suhu cukup dingin karena angin musim dingin bertiup cukup kencang kemarin.
Saya kurang tahu apakah di kantor saya (BPPT Jakarta) ada pelatihan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran. Tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya bila terjadi kebakaran hebat di gedung yang berlantai 24++. Semoga dengan diadakan latihan semacam itu akan membuat orang semakin waspada.