Archive for December, 2007

Hinan-kunren (Latihan Penyelamatan Diri)

Selepas istirahat siang, seperti biasa, saya langsung menuju lab untuk melanjutkan praktikum. Setengah jam kemudian telepon bergetar, dan sensei saya langsung bilang kalau sekarang akan ada “kasai hinan kunren”. Wah ? Koq gak masuk di mailbox saya ya. Memang pagi tadi selepas meeting, senior sempat bercakap tentang hinan-kunren lantaran ada seorang kolaborat yang tidak masuk kerja, yang dianggapnya bahwa kolaborator saya tersebut ingin menghindar dari acara tsb. Padahal sih, sesuai perkataan sekretaris, katanya dianya lagi tidak enak badan, sehingga hari ini terpaksa tidak masuk lab lagi.

Pukul 13:30, acara hinan-kunren dimulai. Saya sudah menyiapkan helm pengaman. Speaker ruangan telah mengumumkan adanya kebakaran di lantai 1 gedung utama central 2, AIST. Tentunya ditambah kata-kata, “kunren desu”. Beberapa karyawan di tingkat 5 (ruangan saya) telah mulai menuju tangga gedung, dengan tidak lupa sambil membawa helm penyelamat yang umumnya telah selalu disiapkan di lemari/rak kerja. Saya pun langsung menuju tangga, dan melihat beberapa orang telah lebih dulu turun melalui tangga menuju lobby, untuk selanjutnya keluar gedung menuju lapangan tengah sebagai tempat untuk menyelamatkan diri (hinan-basho) atau tempat berkumpul (syugou-basho).

Lantaran ini adalah latihan, di lapangan telah dipasang umbul-umbul yang bertuliskan seluruh nama unit kerja di AIST Central 2. Orang-orang langsung berbaris di belakang umbul-umbul yang sesuai dengan unit kerjanya masing-masing. Demikian pula saya, langsung menuju ke umbul-umbul yang bertulisan 次世代半導体研究センター. Rupanya belum ada orang lain di sana. Namun sesaat kemudian beberapa rekan kerja dan orang-orang yang setidaknya pernah bertatap muka lantaran masih satu unit kerja, mulai berdatangan. Orang-orang dari unit lain pun sudah mulai memadati lapangan, dengan semua kepala bertutupkan helm pengaman warna putih, dengan label AIST berwarna merah. Di bagian belakang, ditulis nama pemakai dan golongan darah. Tentunya ini untuk mempermudah bila ada korban yang perlu pertolongan transfusi darah, pada kejadian yang sesungguhnya.

Di sampaing gedung telah berhenti mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran (消防省). Demikian pula, petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran telah siap memberikan pencerahan mengenai tata-cara tindakan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran, serta cara mengatasi kebakaran tersebut. Acara yang hanya sekitar 30 menit tersebut diakhiri dengan demonstrasi penggunaan tabung pemadam untuk memadamkan api. Untuk kepraktisan, tabung pemadam diisi air, lalu disemprotkan ke alat pengaman jalan yang berbentuk kerucut warna merah yang dimaksudkan sebagai api.

Saya sebenarnya telah beberapa mengikuti latihan semacam itu. Tidak hanya penyelamatan kebakaran, tetapi juga penyelamatan pada saat terjadi gempa bumi. Yang lebih terasa lagi adalah ketika mengikuti pelatihan penyelamatan kebakaran dengan menggunakan tabung pemadam yang berisi serbuk pemadam dan melewati ruangan berasap, yang ternyata benar-benar tidak kelihatan meskipun berjarak beberapa puluh cm. Dalam latihan penyelamatan ketika terjadi gempa bumi, sempat merasakan simulasi gempa yang benar-benar terjadi di berbagai daerah di Jepang, dengan cara naik kendaraan khusus untuk merasakan gempa yang sampai berskala 6 atau bahkan 7 (skala standar Jepang).

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa latihan semacam itu selalu diadakan tiap tahun dan diikuti (hampir) seluruh karyawan. Dan sebagaimana umumnya di Jepang, mereka semua bisa mengikutinya dengan senang hati, walau di luar suhu cukup dingin karena angin musim dingin bertiup cukup kencang kemarin.

Saya kurang tahu apakah di kantor saya (BPPT Jakarta) ada pelatihan penyelamatan diri bila terjadi kebakaran. Tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya bila terjadi kebakaran hebat di gedung yang berlantai 24++. Semoga dengan diadakan latihan semacam itu akan membuat orang semakin waspada.

Comments (1)

Gara-gara Taifu Nomor 9

Sapporo, 6 September 2007

Kebetulan ikut konferensi Obutsu di Hokkaido Kogyo Daigaku, sejak tanggal 4 September 2007, dan berencana kembali ke Tsukuba tanggal 6-nya.

Hari itu cuaca Sapporo mendung sejak pagi, dan siangnya sudah mulai turun hujan, walau hanya gerimis. Karena ada badai taufan (Taifu 9-go) yang melanda Jepang yang diberitakan akan masuk wilayah Kanto pada malam harinya, dengan perasaan cemas jangan-jangan tidak bisa kembali ke Tsukuba hari itu, saya selalu mengikuti berita di TV Hotel Green Kotoni, Sapporo.

Ketika istirahat siang, saya coba menghubungi perwakilan JTB setempat, yang dijawab bahwa sampai saat itu belum ada informasi apa-apa dari ANA. Tiket saya hari itu adalah dengan penerbangan ANA 74, yang rencana berangkat 18:30.

Karena mendung sudah semakin gelap dan gerimis mulai besar, saya putuskan langsung ke Chitose Airport, dengan harapan bisa naik penerbangan sebelumnya. Setelah membeli oleh2 di Sapporo-eki, saya langsung naik kereta menuju bandara. Rupanya udara di Chitose Airport masih cukup terang, dan tidak ada gerimis.

Sesampai di Airport, saya langsung menghubungi JTB, tetapi sayang tiket saya tidak bisa diubah. Akhirnya saya tetap dikasih Boarding Pass untuk penerbangan 18:30. Di ruang tunggu bandara ada monitor pergerakan Taifu 9-go, yang memang tengah menunggu Tokyo-area. Kawan di Tsukuba telah menghubungi melalui email HP, bahwa hujan deras tengah melanda Chiba-ken, yang membuat perasaan semakin cemas.

Pihak ANA masih belum memberi keputusan bisa tidaknya berangkat penerbangan ANA 72 (17:30) dan ANA 74 (18:30), tetapi penerbangan berikutnya sudah pasti tidak dilakukan karena memang kondisi Haneda Airport yang tidak memungkinkan untuk landing. Bagi mereka yang telah mengetahui kondisi bahwa penerbangannya di-cancel, segera bisa mencari hotel untuk menginap. Sial bagi kami, yang mesti menunggu keputusan sampai detik-detik akhir menjelang keberangkatan. Singkat kata, sekitar pukul 6 sore, kami diberitahu kalau penerbangan saya terpaksa dibatalkan.

Setelah meminta konfirmasi tiket esok hari, saya langsung menghubungi beberapa hotel di sekitar bandara, yang mana semuanya telah penuh. Tentunya ribuan orang terpaksa menginap kembali di Chitose, Sapporo dan sekitarnya. Hari semakin malam, saya masih di dalam bandara, sambil mencoba menghubungi beberapa hotel, termasuk hotel di Sapporo, yang kesemuanya sama, penuh. Akhirnya saya kontak teman di Tsukuba yang mempunyai teman di Sapporo, untuk sekiranya bisa membantu saya.

Singkat cerita, saya ketemu Bapak Ananda Putra, dan diantar ke Mesjid Sapporo, setelah sebelumnya berputar-putar di sekitar Sapporo-eki untuk mencari hotel, yang hasilnya juga nihil. Setelah shalat Isya’ berjamaah dengan saudara-saudara di Sapporo, dengan seorang kawan dari Malaysia saya pergi menemui seorang kawan yang tinggal di Hotel Arimax330. Ternyata penuh juga. Ya, akhirnya saya diantar kembali ke mesjid, dan menginap semalam di sana.

Comments (1)