Kampung halaman

Sebenarnya sudah lama saya menggunakan Google Earth atau Google Map untuk melihat-lihat tempat-tempat yang pernah saya kunjungi atau hanya ingin tahu saja. Salah satunya adalah foto satelit kampung halaman saya yang telah saya tinggalkan lebih dari 20 tahun yang lalu. Dengan melihat foto tersebut, sekilas tidak terlalu berbeda keadaannya dengan ketika saya tinggalkan dulu. Setidaknya luas wilayah kampung yang dibatasi oleh tanah persawahan tidak begitu berbeda jauh. Hanya saja mungkin jumlah rumah yang sepertinya berubah. Hal itu mungkin saja lantaran saya tidak pernah melihat kampung saya dari atas.

Jalan masuk ke kampung saya (main street) masih saja seperti yang dulu, gelap karena rimbunnya pepohonan di kiri kanan jalan. Demikian pula jalan kampung yang masih tetap telanjang, dalam arti masih beralas tanah lembut, yang sangat berdebu bila musim kering. Suasana kampung masih sebagaimana yang dulu, tetapi sudah mulai ramai oleh kendaraan roda 2 maupun kadang juga roda 4.

Yang paling membedakan adalah kondisi rumah-rumah tetangga yang terlihat bagus-bagus, dengan tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Saya mendengar bahwa listrik telah masuk kampung saya sekitar pertengahan 90-an. Semenjak itu sepertinya setiap rumah mempunyai televisi. Dan selain telepon rumah, sebagian anak muda bahkan telah menggunakan telepon seluler. ck…ck…ck…

Jaman saya masih tinggal di sana, kampung akan segera menjadi gelap bila tidak ada bulan. Beberapa rumah penduduk ada yang menggunakan lampu petromak, yang cahanya sampai di jalan-jalan. Namun umumnya pukul 20 sudah mulai padam. Televisi pun, hanya beberapa tetangga yang mempunyainya. Sehingga untuk melihat acara-acara yang malam, terpaksa mengumpul di salah satu rumah tetangga tersebut. Bahkan saya pun dulu sering bermalam di rumah tetangga, karena tidak berani pulang. Bukan karena apa, ya karena saking gelapnya tadi.

Rumah 2007

4 Comments »

  1. agung said

    Sampeyan kuwi anake jin opo sopo, urip ning tengah alas.

  2. sarjono said

    wekekekek……..
    lha mangkane, kl mau nyari pelet gk usah jauh2.
    mungkin masih tersedia buanyak di belakang rumah. hehehe…

    saya sendiri jg heran je, kampung saya masih tetep seperti yg dulu.
    tp skr kl malem sudah cukup terang karena ada lampu jalan, walau saya belum pernah menyaksikannya karena belum pernah kemalaman di sana.

    sepertinya para gendruwo dan wewe gombel sudah pada lari, mungkin ada yg nyampek njuwana :)

  3. saniroy said

    Saestu kondur taun ngajeng mboten Om John? Menawi mboten, kula nyuwun pangestu badhe ngrumiyini njih. Osaki ni shitsureishimasu :-P

  4. sarjono said

    insyaallah sami2 badhe kondur njawi.
    mbok bilih wonten wedal, insyaallah sowan yogja.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment